Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Januari 2009

Manusia Dan Cinta Kasih

I. PENDAHULUAN

Makalah ini membahas mengenai manusia dan cinta kasih. Sebelum makalah ini dibahas semakin jauh, secara singkat saya akan mulai membahas mengenai manusia dan juga tentang cinta itu sendiri.

Manusia dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia). Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.

Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik yang pernah kita alami dalam hidup ini. Sangat disesali, orang pada umumnya masih bingung akan apakah cinta itu sesungguhnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfileman menperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu di titik beratkan pada perasaan dan cerita romantika. Tetapi, pengertian akan natur dari cinta akan membantu kita semua untuk lepas dari ketidak jelasan ini.

II. ISI

Secara singkat pada bahagian pendahuluan telah dijelaskan mengenai manusia dan cinta tersebut, tetapi sekarang pada bagian ini kita akan membahas mengenai manusia itu secara lebih terperinci.

Ada banyak versi mengenai manusia, dan tergantung dari dan berdasarkan apa orang lain menngertikan mengenai manusia tersebut.

Dari segi psikologis pendidikan manusia itu dapat memiliki hakikat sebagai berikut:

· Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

· Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

· Yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.

· Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.

· Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati

· Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas

· Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.

· Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Dan pembagian manusia diatas berdasarkan psikologis pendidikan.

Dari segi biologis, manusia dapat dijelaskan kedalam beberapa ciri – ciri antara lain: ciri – ciri fisik. manusia biasanya dipelajari sebagai salah satu dari berbagai spesies di muka Bumi. manusia diartikan sebagai hominid dari spesies Homo sapiens. Satu-satunya subspesies yang tersisa dari Homo Sapiens ini adalah Homo sapiens sapiens.

Mereka biasanya dianggap sebagai satu-satunya spesies yang dapat bertahan hidup dalam genus Homo. Manusia menggunakan daya penggerak bipedalnya (dua kaki) yang sempurna. Dengan ada nya kedua kaki untuk menggerakan badan, kedua tungkai depan dapat digunakan untuk memanipulasi obyek menggunakan jari jempol (ibu jari). Warna kulit manusia bervariasi dari hampir hitam hingga putih kemerahan. Secara umum, orang dengan nenek moyang yang berasal dari daerah yang terik mempunyai kulit lebih hitam dibandingkan dengan orang yang bernenek-moyang dari daerah yang hanya mendapat sedikit sinar matahari. (Namun, hal ini tentu saja bukan patokan mutlak, ada orang yang mempunyai nenek moyang yang berasal dari daerah terik dan kurang terik; dan orang-orang tersebut dapat memiliki warna kulit berbeda dalam lingkup spektrumnya.) Rata-rata, wanita memiliki kulit yang sedikit lebih terang daripada pria. Setelah ciri – ciri fisik ada juga ciri – ciri mental. Kemampuan mental manusia dan kepandaiannya, membuat mereka, menurut Pascal, makhluk tersedih di antara semua hewan. Kemampuan memiliki perasaan, seperti kesedihan atau kebahagiaan, membedakan mereka dari organisme lain, walaupun pernyataan ini sukar dibuktikan menggunakan tes hewan. Keberadaan manusia, menurut sebagian besar ahli filsafat, membentuk dirinya sebagai sumber kebahagiaan. Juga terdapat habitat manusia itu sendiri. Pandangan konvesional dari evolusi manusia menyatakan bahwa manusia berevolusi di lingkungan dataran sabana di Afrika. (lihat Evolusi manusia). Teknologi yang disalurkan melalui kebudayaan telah memungkinkan manusia untuk mendiami semua benua dan beradaptasi dengan semua iklim. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, manusia telah dapat mendiami sementara benua Antartika, mendiami kedalaman samudera, dan ruang angkasa, meskipun pendiaman jangka panjang di lingkungan tersebut belum termasuk sesuatu yang hemat. Gaya hidup asli manusia adalah pemburu dan pengumpul, yang diadaptasikan ke sabana, adegan yang disarankan dalam evolusi manusia. Gaya hidup manusia lainnya adalah nomadisme (berpindah tempat; terkadang dihubungkan dengan kumpulan hewan) dan perkampungan menetap yang dimungkinkan oleh pertanian yang baik. Manusia mempunyai daya tahan yang baik untuk memindahkan habitat mereka dengan berbagai alasan, seperti pertanian, pengairan, urbanisasi dan pembangunan, serta kegiatan tambahan untuk hal-hal tersebut, seperti pengangkutan dan produksi barang.

Selain segi biologis, manusia juga di pandang dari segi kerohanian. Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai “orang manusia” terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang dan ditolak oleh lainnya. Juga, adalah perdebatan di antara organisasi agama mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu. Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melalui ritual dan agama. Ada beberapa sistem kepercayaan yang dianut manusia, antara lain animisme, dinamisme, mistiksme, lalu politeisme, dan sekarang manusia menganut monoteisme.

Juga dapat di tinjau dari segi kebudayaan dan peradaban. Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai “orang manusia” terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang dan ditolak oleh lainnya. Juga, adalah perdebatan di antara organisasi agama mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu. Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melalui ritual dan agama.

Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik yang pernah kita alami dalam hidup ini. Sangat disesali, orang pada umumnya masih bingung akan apakah cinta itu sesungguhnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfileman menperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu di titik beratkan pada perasaan dan cerita romantika. Tetapi, pengertian akan natur dari cinta akan membantu kita semua untuk lepas dari ketidakjelasan ini.

Gary Chapman didalam bukunya “ Lima bahasa cinta untuk bujang”(the five love language for single) menyatakan bahwa ada dua macam cinta: Jatuh cinta (tahap obsesi dari cinta) dan cinta yang didasarkan atas janji (sumpah). Dengan melihat kedua jenis cinta ini, kita akan dimampukan kita untuk melihat cinta dengan lebih jelas lagi.

Jatuh Cinta merupakan “pengalaman cinta” yang alami (berdasarkan naluri kita) dan ini telah menjadi satu bagian dari pembentukan psikologi manusia. Pria dan wanita pada umumnya memiliki kemungkinan yang besar untuk mengalami jenis cinta ini. Tetapi, karena natur dari cinta ini berdasarkan naluri kita, tahapan cinta ini bisa menyebabkan kita membentuk suatu kebiasaan yang terpaku pada obsesi (dimana ini sangat tidak sehat) mereka selalu menjadi buta terhadap realita diri dan orang yang mereka cintai. Obsesi ini akan bergerak seperti virus dimana ini akan membuat orang kehilangan rasionya. Orang yang berada dalam tahapan cinta ini akan selalu percaya bahwa orang yang ia cintai itu merupakan orang yang paling sempurna.

Ciri dari orang yang sedang jatuh cinta ada tiga :

· Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,

· Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan

· Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.

Saya juga mengutip berbagai macam pengertian dan jenis cinta, yaitu:

· Cinta berjenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis ini, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

· Cinta yang memiliki jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta ini adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang.

· Jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan.

· Cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis ini bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Seperti contoh cinta Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

· Cinta yang rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk mengerjakan hal yang penting, membelanya meskipun salah.

· Cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak.

· Cinta rindu. Rindu adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta.

· Perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

Manusia dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia). Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya.

Gary Chapman didalam bukunya “ Lima bahasa cinta untuk bujang”(the five love language for single) menyatakan bahwa ada dua macam cinta: Jatuh cinta (tahap obsesi dari cinta) dan cinta yang didasarkan atas janji (sumpah). Dengan melihat kedua jenis cinta ini, kita akan dimampukan kita untuk melihat cinta dengan lebih jelas lagi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Jablonski, N.G. & Chaplin, G. “Evolusi pewarnaan kulit manusia.” Catatan Teratur Evolusi Manusia 39 (2000) 57-106. (dalam bentuk pdf)
2. Robins, A.H. Perspektif Biologis pada Pigmentasi Manusia. Cambridge: Cambridge University Press, 1991.

Daftar Peraih Nobel Kimia

Roger D Kornberg
Peraih Nobel Kimia 2006
Roger D Kornberg (59), AS, dianugerahi Nobel Kimia atas penelitiannya mengenai proses tranformasi informasi gen dalam pembentukan protein sel. Atau yang lebih dikenal dengan istilah transcription. Kornberg adalah ilmuwan pertama yang berhasil memetakan proses transkripsi. Penelitian Kornberg mengenai transformasi informasi gen dinilai sangat bermanfaat bagi penelitian di bidang kesehatan. Kesalahan dalam memahami sistem transformasi dapat mengakibatkan sejumlah penyakit bawaan seperti kanker dan kelainan jantung.

NOBEL KIMIA 2002

John B. Fenn, born 1917 (85 years) in New York City, USA (US citizen). PhD in Chemistry 1940 and Professor Emeritus 1987 at Yale University, Connecticut, USA. Since 1994 Research Professor at Virginia Commonwealth University, Richmond, Virginia, USA.
www.has.vcu.edu/che/people/fenn.html

Koichi Tanaka, born 1959 (43 years) in Toyama City, Japan (Japanese citizen). B. Eng at Tohoku University, Japan. R&D Engineer at Shimadzu Corp., Kyoto, Japan.
www.shimadzu.com

Kurt Wüthrich, born 1938 (64 years) in Aarberg, Switzerland (Swiss citizen). PhD in Inorganic chemistry 1964 at the University of Basel, Switzerland. Professor in Biophysics at ETH Zürich, Switzerland and Visiting Professor at the Scripps Research Institute, La Jolla, California, USA.
www.mol.biol.ethz.ch/wuthrich

2006 Roger D Kornberg
2004 Aaron Ciechanover, Avram Hershko, Irwin Rose
2003 Peter Agre, Roderick MacKinnon
2002 John B. Fenn, AS, Koichi Tanaka, Jepang & Kurt Wüthrich, Swiss-AS
2001 William S. Knowles, Ryoji Noyori, K. Barry Sharpless
2000 Alan Heeger, Alan G. MacDiarmid, Hideki Shirakawa
1999 Ahmed Zewail
1998 Walter Kohn, John Pople
1997 Paul D. Boyer, John E. Walker, Jens C. Skou
1996 Robert F. Curl, AS, Richard E. Smalley, AS & Sir Harold W. Kroto, Inggris
1995 Paul Crutzen, Belanda & Mario Molin, Mexico & F. Sherwood Rowland, AS
1994 George A.Olah, AS
1993 Kary B. Mullis, AS & Michael Smith, Kanada
1992 Rudolph A. Marcus, AS
1991 Richard E. Ernst, Swiss
1990 Elias James Corey, AS
1989 Thomas E. Ernst, Swiss
1988 Johann Diesenhoffer, Jerman Barat & Robert Huber, Jerman Barat & Hartmut Michel, Jerman
1987 Donald J. Cram, AS, Charles J. Pedersen, AS & Jean Marie Lehn, Prancis
1986 Dudley H. dan Yuan Lee, AS & John C. Polangi, Kanada
1985 Prof. Herbert A. Houpman dan Prof. Jerome Karle, AS
1984 R. Bruce Merrifield, AS
1983 Henry Tanbe, Kanada
1982 Aaron Klug, Afrika Selatan
1981 Kenichi Fakul, Jepang & Roald Hoffmann, AS
1980 Paul Berg,Walter Gilbert, AS & Frederick Sanger, Inggris
1979 Herber C.Brown, AS & George Wittog, Jerman
1978 Peter mitchell, Inggris
1976 William N.Lipscomb, AS
1975 John Conforth, Australia-lnggris, Vladimir Prelog, Yugoslavia-Swiss
1974 Paul J.Flory, AS
1973 Emit Otto Fischer, Jerman Geofrey Wilkinson, Inggris
1972 Christian B. Anfinsen, Stanford Moore & William H. Stein. AS
1971 Gerhard Herzberg, Kanada
1970 Luis F. Leloir, Argentina
1969 Derek Barton, Odd Hassel
1968 Lars Onsager
1967 Manfred Eigen, Ronald G.W. Norrish, George Porter
1966 Robert S. Mulliken
1965 Robert B. Woodward
1964 Dorothy Crowfoot Hodgkin
1963 Karl Ziegler, Giulio Natta
1962 Max F. Perutz, John C. Kendrew
1961 Melvin Calvin
1960 Willard F. Libby
1959 Jaroslav Heyrovsky
1958 Frederick Sanger
1957 Lord Todd
1956 Sir Cyril Hinshelwood, Nikolay Semenov
1955 Vincent du Vigneaud
1954 Linus Pauling
1953 Hermann Staudinger
1952 Archer J.P. Martin, Richard L.M. Synge
1951 Edwin M. McMillan, Glenn T. Seaborg
1950 Otto Diels, Kurt Alder
1949 William F. Giauque
1948 Arne Tiselius
1947 Sir Robert Robinson
1946 James B. Sumner, John H. Northrop, Wendell M. Stanley
1945 Artturi Virtanen
1944 Otto Hahn
1943 George de Hevesy
1942 The prize money was with 1/3 allocated to the Main Fund and with 2/3 to the Special Fund of this prize section
1941 The prize money was with 1/3 allocated to the Main Fund and with 2/3 to the Special Fund of this prize section
1940 The prize money was with 1/3 allocated to the Main Fund and with 2/3 to the Special Fund of this prize section
1939 Adolf Butenandt, Leopold Ruzicka
1938 Richard Kuhn
1937 Norman Haworth, Paul Karrer
1936 Peter Debye
1935 Frédéric Joliot, Irène Joliot-Curie
1934 Harold C. Urey
1933 The prize money was with 1/3 allocated to the Main Fund and with 2/3 to the Special Fund of this prize section
1932 Irving Langmuir
1931 Carl Bosch, Friedrich Bergius
1930 Hans Fischer
1929 Arthur Harden, Hans von Euler-Chelpin
1928 Adolf Windaus
1927 Heinrich Wieland
1926 The Svedberg
1925 Richard Zsigmondy
1924 The prize money was allocated to the Special Fund of this prize section
1923 Fritz Pregl
1922 Francis W. Aston
1921 Frederick Soddy
1920 Walther Nernst
1919 The prize money was allocated to the Special Fund of this prize section
1918 Fritz Haber
1917 The prize money was allocated to the Special Fund of this prize section
1916 The prize money was allocated to the Special Fund of this prize section
1915 Richard Willstätter
1914 Theodore W. Richards
1913 Alfred Werner
1912 Victor Grignard, Paul Sabatier
1911 Marie Curie
1910 Otto Wallach
1909 Wilhelm Ostwald
1908 Ernest Rutherford
1907 Eduard Buchner
1906 Henri Moissan
1905 Adolf von Baeyer
1904 Sir William Ramsay
1903 Svante Arrhenius
1902 Emil Fischer

1901 Jacobus H. van ‘t Hoff